Puluhan Korban PT Alisa Zola Sejahtera Diperiksa Polresta Sidoarjo

0
62
Abdul Malik
H.Abdul Malik,SH MH saat mendampingi para korban dugaan penipuan.

SIDOARJO. Kasus dugaan pemalsuan yang dilakukan PT Alisa Zola Sejahtera sebagai pengembang Perumahan Mustika Garden mulai diperiksa Polresta Sidoarjo.

Ditandai pemeriksaan puluhan korban sebagai saksi, Rabu 20 Februari 2019. Selama dimintai keterangan, mulai pagi hingga sore hari, puluhan korban ini didampingi tim dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jawa Timur.

“Iya benar. Setelah dilimpahkan dari Polda Ke Polresta Sidoarjo, saat ini korban mulai dilakukan pemeriksaan,” ujar Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris.

Sebelumnya, kasus ini dilaporkan para korban ke Polda Jatim pada Agustus 2018 lalu. Diawali dengan kecurigaan para korban yang tak kunjung melihat rumah idaman yang mereka cicil setiap bulan di daerah Pepe, Sedati Sidoarjo.

Harris menyampaikan, saat ini pihaknya kumpulkan barang bukti dan keterangan korban. Dari 28 orang korban, total kerugian dilaporkan mencapai Rp 4 miliar.

“Kita sudah memanggil beberapa korban untuk dimintai keterangan dalam proses penyelidikan. Dan secepatnya akan dilakukan kenaikan status menjadi penyidikan,” terangnya.

Sementara H. Abdul Malik, SH. MH, kuasa hukum korban mengatakan pihak yang menjadi terlapor dalam kasus ini adalah Muhammad Fattah yang mengaku sebagai Direktur Utama PT Alisa Zola Sejahtera.

“(Nilai kerugian) bervariasi. Mulai di bawah seratus juta hingga di atas seratus atau dua ratus juta yang sudah mereka bayar,” terangnya.

Awalnya perumahan milik developer PT Alisa Zola Sejahtera tersebut bernama Perumahan Mustika Garden, lalu kemudian berganti nama manjadi Grand Mutiara abadi.

“Rata-rata korbannya ini merupakan pasangan suami istri yang baru menikah. Mereka susah payah menabung untuk punya rumah, tapi tidak ada yang teralisasi, ” ujar Malik.

Salah satu korban, Gani Setio asal Sedati Sidoarjo, menyebut dirinya sempat kesal lantaran hunian rumah yang dijanjikan belum ada perkembangan.

“Cicilan mulai 2015. Tapi sampai 2017 belum ada progres sama sekali. Jangankan rumah, tanahnya belum diuruk masih berupa sawah,” kata Gani.

Dari keterangannya ia sudah melakukan pembayaran baik kepada yang bersangkutan langsung hingga pembayaran melalui ATM atas nama Muhammad Fattah. Total kerugiannya mencapai Rp 90 juta rupiah.

“Sudah DP Rp25 juta dan nyicil sampai dua tahun. Per bulan saya bayar Rp2,8 juta. Jadi, total kerugian saya mencapai kurang lebih Rp90 juta yang sudah dibayarkan,” pungkasnya. (tom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here