Belajar Hidup dari Wanita Haenyeo

0
35
IMG 20181231 WA0001
Ketua Umum IPHI, H. Rahmat Santoso, SH,MH bersama keluarga di Korsel

 

Catatan: Ketua Umum IPHI, H Rahmat Santoso, SH, MH

Soal ketajaman hukum, Korea Selatan sudah diakui dunia. Bersama negara lain seperi Brasil, Negeri Ginseng itu dikenal paling galak dalam urusan penegakan hukum. Presiden Park Geun-hye, divonis 24 tahun salah satu contohnya.

Namun bukan hanya itu saja yang membuat saya bersama keluarga memutuskan memilih Korsel sebagai tempat menghabiskan waktu di penghujung tahun 2018. Pertimbangan lain adalah Pulau Jeju. sebuah pulau di barat daya Semenanjung Korea yang kerap dipakai lokasi syuting drama-drama Korea itu.

Seperti banyak ditulis, tiga khas Pulau Jeju adalah Batu, Angin dan Wanita. Karena sedang musim dingin, saya menikmati angin paling kencang di Korsel itu tak bisa berlama-lama. Keluar sebentar sudah menggigil karena suhu minus 5 sampai 7 derajat celcius.

Melihat bebatuan rasanya hanya beberapa saja karena hampir semua tertutup salju. Bagi penggemar sepakbola, salah satu batu khas Pulau Jeju sudah bisa dilihat karena dipakai untuk membuat patung 11 kakek saat Piala Dunia 2002.

Tinggal satu yang bisa saya lihat, yaitu wanita! Seperti banyak cerita, Pulau Jeju memang lebih banyak populasi perempuan di bandingkan pria. Katanya, dulu kala, para pria Pulau Jeju banyak dijadikan prajurit kerajaan. Selain itu ada yang tak pulang saat melaut.

Akibatnya, banyak janda di Pulau Jeju. Konon, sejak kaum pria tak kembali dari melaut karena ditelan ombak dan badai, para wanita mengambil alih peran sebagai pencari rejeki di laut. Yang akhirnya sekarang disebut, Haenyeo.

Haenyeo “Si Wanita Laut” atau juga kerap dijuluki “Putri Duyung”. Tahun 2016 lalu, Haenyeo kembali masuk dalam warisan budaya bukan benda versi UNESCO. Populasinya hampir punah. Tinggal sekitar 3 ribuan wanita Haenyeo yang bertahan sekarang.

Haenyo kerap dipakai lambang keperkasaan wanita Korsel. Memang pantas. Bayangkan saja, Haenyeo bukanlah wanita muda. Namun berusia antara 40 tahun sampai 90 tahun. Demi mengais rejeki di laut, mereka menyelam hingga 10 meter ke dalaman laut dengan alat seadanya. Menahan nafas selama 2 menit dengan suhu minus 7. Profesi “orang mati”..!!

Haenyeo
Haenyeo

Hasilnya tidak seberapa dibanding resikonya. Abalone misalnya, mereka jual kepada wisatawan sekitar Rp 200 ribu. Namun para wanita ini tetap melakukannya dengan gembira. Bekerja bertarung nyawa lebih baik daripada mencuri atau mengemis. Jadi, pasal 362 hingga pasal 365 tidak ada di Pulau Jeju. Tidak ada pengemis dan pencurian..!

Bersama dengan pemadu, saya diajak ke kampung janda Haenyeo. Mereka bercerita, mewarisi keahilan menyelam sudah turun-temurun ratusan tahun lalu. Bertahan hidup dalam air untuk menyambung hidup di darat adalah cara mereka. Apalagi mengadapi cuaca tiga musim tidak semudah dua musim seperti di Indonesia.

IMG 20190112 WA0002
Wanita di Pulau Jeju (belakang) tampak lebih muda dari usianya. Berapa? 60 tahun

Salain itu, apa lagi yang membuat mereka mampu bertahan? “Saya masih mau ingin hidup, ingin ketemu saudara saya. Dia masih hidup, saya bertemu di mimpi, ” ucap seorang ibu berusia 90 tahun yang terpisah dengan saudaranya akibat perang.

Setelah lima hari berada di Korsel, saya pun kembali ke Tanah Air dengan masih tergiang wajah dan kisah para wanita Haenyeo, Pulau Jeju. Wajah wanita tangguh, bertahan hidup dengan cara luar biasa.

Sesampainya di rumah, saya baca berita: Polda Jatim membongkar jaringan prostitusi artis dengan tarif puluhan juta rupiah. Emm….@

IMG 20181231 WA0003
Starbucks ada di pusat Kota Jeju

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here